Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Sebagai orangtua, Anda akan merasa
sangat pusing saat menghadapi anak yang sulit diatur. Gara-gara hal itu,
biasanya Anda malah akan memarahi anak. Padahal sebenarnya ada cara
efektif dan kreatif agar si kecil tidak lagi semaunya sendiri.
Menurut Melly Kiong, semua persoalan yang terjadi pada anak, sebenarnya awalnya karena orangtua juga.
Contohnya
jika anak suka melawan, biasanya hal itu karena orangtuanya terlalu
galak. Kalau anak manja, hmmm, Anda sebaiknya pikir lagi, siapa yang
awalnya memanjakan anak.
Melly mengatakan, seharusnya orangtua jangan
cepat menghakimi jika anak melakukan sesuatu hal yang menurut Anda
salah. Sebagai orangtua, Anda juga harus melihat dari kacamata anak.
Untuk
anak yang sulit diatur, Melly punya cara jitu untuk mengatasinya. Hal
yang perlu dilakukan agar anak tak lagi semaunya sendiri adalah dengan
membangun mental konsekuen sejak dini. Apa maksudnya?
“Buat aturan
bersama-sama,” ujar wanita 42 tahun ini. Melly berbagi tips saat ditemui
dalam acara Interactive Talkshow & Coaching Clinic Indomaret di
Kidzania, Pacific Place, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Dalam
membuat aturan bersama ini tentu saja anak harus dilibatkan. Jika Anda
ibu bekerja, ajak juga orang yang mengasuh anak sehari-hari, entah itu
sang nenek atau pengasuh.
“Misalnya kalau anak minta dibelikan game. Buat dulu aturannya bersama-sama kapan boleh main game,” tuturnya.
Saat
membuat aturan tersebut, anak juga perlu diajarkan disiplin. Contohnya,
kalau anak tidak mengikuti aturan yang sebenarnya sudah ia sepakati
itu, apa konsekuensinya.
Konsekuensi tersebut tentunya juga harus dibuat bersama-sama dengan anak.
Dengan
melibatkan dia, si kecil akan merasa orangtuanya tidak semauanya
sendiri. Anak juga seperti memiliki kekuasaan, karena dia ikut terlibat
dalam pembuatan aturan tersebut.
Sebagai orangtua, menurut Melly,
Anda juga perlu membangun mental juang anak. Hal ini agar anak mau
berusaha meraih sesuatu yang diinginkannya.
Selama ini, anak menjadi
manja karena memang orangtua lah yang memanjakan mereka. Apalagi
orangtua yang bekerja. Mereka kerap merasa bersalah karena sudah
menghabiskan waktunya berjam-jam di luar rumah, bukan dengan anak. Saat
libur tiba, anak minta sesuatu, orangtua cenderung memberikannya, tanpa
perlu si anak mengerti artinya berusaha.
Bagaimana caranya membangun
mental juang anak? Melly telah mempraktekkannya pada anaknya sendiri. Ia
membuat daftar kebaikan atau kepintaran yang telah dilakukan
anak-anaknya dalam sepekan. Ibu dua anak itu tidak lupa menyediakan
hadiah untuk anak-anaknya saat mereka mampu dan mau melakukan hal-hal
baik tersebut.
Daftar kebaikan atau kepintaran ini ditulis oleh si
anak sendiri. Setiap pulang bekerja, Melly akan bertanya pada anaknya,
apa yang sudah si anak lakukan hari ini. Misalnya saja, mau makan sayur,
bisa memakai sepatu sendiri, bisa makan sendiri, dan lain-lain.
Hadiah
yang diberikan pada anak tidak perlu mahal-mahal. Mainan atau buku
bacaan sesuai keinginannya bisa jadi salah satu contoh hadiah untuk
anak.
“Menulis hal-hal baik ini juga termasuk salah satu cara
membangun kepercayaan diri anak. Hargai hal-hal kecil yang dilakukan
anak, berikan pujian,” tandas wanita yang sebelum menulis buku, 21 tahun
bekerja sebagai marketing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar